VVF 2014 – Pasar Gambar Gerak

Sejak tahun 2009 Village Video Festival (VVF) menjadi perhelatan video di desa yang selalu reaktif dan mendadak. Di inisiasi oleh Jatiwangi art Factory dan Sunday Screen, VVF coba mendekatkan perkembangan media baru dengan pola residensi.

Tahun ini menjadi kali ke-6 VVF digelar. Kami tertarik merespon perubahan yang sedang terjadi di Jatiwangi dalam beberapa tahun kedepan, mengarsipkanya dan membuat kejutan visual.

Sebuah Pasar Gambar Gerak
Jatiwangi sekarang sedang berubah. Tidak hanya kondisi sosial, namun juga bentuk dan infrastruktur. Karena sekarang sedang dilakukan pembangunan proyek jalan tol dari Cikampek menuju Palimanan Cirebon, yang membelah wilayah Jatiwangi. Juga akan dibangun superblock Mall tepat di jantung kecamatan, juga pabrik-pabrik garmen besar. Berbagai gejala perubahan ini kemudian mendorong kami untuk ikut memberi kejutan pada Jatiwangi. Setelah fase partisipatif, kolaboratif, pemberdayaan dan segala macam istilah lainya (yang kemudian membuat gelisah dan merasa harus dibongkar lagi berbagai pendekatan ini) kami memilih untuk memberi kejutan lewat keriuhan visual.

Seperti halnya pasar-pasar kaget yang ramai dan riuh, kami tertarik untuk mengokupasi ruang publik di Jatiwangi dan membuka berbagai kios yang berisi berbagai tawaran dan pertunjukan visual. Karena Jatiwangi secara tidak langsung telah memilih untuk menjadi urban.

APA SAJA YANG ADA DI PASAR GAMBAR GERAK
Festival ini berlangsung selama 2 Minggu dari tanggal 14-27 Desember, dan akan dipresentasikan dalam bentuk Pasar yang digelar dari tanggal 25-27 Desember. Ini dia kami persembahkan :

TOKO JUAL DIRI
Berisi workshop video performance yang mengajak orang untuk membuat pertunjukan tentang dirinya dalam 1 menit. Targetnya dari kios ini kita dapat mengarsipkan 1000 video performance dari warga Jatiwangi. Dalam artian lain kami memiliki arsip 1000 biografi orang-orang Jatiwangi.

KIOS KREDITAN FOOTAGE
Menerima video dokumentasi pribadi untuk kemudian dirangkai menjadi sebuah video cerita.

KIOS KENANGAN

Di Jatiwangi dulu pernah ada sebuah Bioskop yang cukup terkenal, namun sekarang telah tiada termakan zaman. Banyak orang Jatiwangi yang mempunyai memori kolektif akan bioskop ini. Kami akan coba menulusuri film-film apa yang paling disukai atau paling berkesan bagi orang-orang Jatiwangi saat itu dan coba memutarnya kembali di kios ini.

KIOS PERILAKU
Coba mengamati karakter individu lewat gerak-gerak sederhana yang khas dari tubuhnya, seperti: menggosok-gosok hidung, mengusap wajah, merapikan rambut dsb. Kemudian gerak ini akan ditampilkan dalam bentuk gif.

WAYANG KALANGKANG CAMPURSARI
Pertunjukan wayang multimedia yang menggabungkan cerita tradisional dengan peralatan digital.

GEROBAK BIOSKOP
Program kerjasama dengan artlab ruangrupa ini akan mempersembahkan peluncuran perdana film “Panenergi” yang disutradarai oleh Irwan Ahmett juga peluncuran film musik keramik “Janji Tanah Berbunyi”.

PERTUNJUKAN VIDEO MAPPING
Coba memberi kejutan visual pada bangunan-bangunan yang ada di Jatiwangi.

Kami juga terbuka bagi siapapun yang tertarik membuat kios-kios video lainnya, atau project lain yang dapat dipresentasikan dalam Pasar Gambar Gerak. Ide project dapat dikirimkan ke villagevideofestival@gmail.com

Advertisements

Village Video Festival 2013 – Curi Pandang

VVF2013-01

Village Video Festival 2013

Curi Pandang

Festival Video Residensi Tahunan Internasional yang ke lima di Jatiwangi

Jatiwangi, 16-28 Desember 2013

Sekarang kita semua tahu, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, mayoritas orang-orang di planet ini telah tinggal di kota. Ricky Burdett, seorang Urbanist dari LSE Cities London memprediksikan bahwa tujuh puluh lima persen (75%) populasi global akan terkonsentrasi di kota pada tahun 2050–kebanyakan di kota megapolitan–diiringi dengan tumbuhnya kota-kota kecil yang menyebar secara masif melewati negara dan benua. Dan tidak menutup kemungkinan prediksi Burdett datang lebih cepat. Lalu bagaimana warga desa melihat posisinya sekarang dalam peta global?

Banyak sekali ironi yang akan menemani pertanyaan diatas. Salah satunya adalah kenyataan bahwa 99% petani tidak mau anaknya jadi petani. Sementara pendapatan desa sebagian besar dari hasil pertanian. Setidaknya ini yang terasa nyata di Jatiwangi. Sepuluh tahun kedepan, Jatiwangi akan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Tahun ini telah dimulai pembangunan Super Blok bernama Jatiwangi Square dengan berbagai tawaran fasilitas seperti; Hotel, Mall, Ruko, Perumahan dan Waterpark. Juga percepatan proyek jalan tol jalur Cikampek, Sumedang, Dawuan sampai ke Cirebon. Tak ketinggalan beberapa pabrik garmen baru yang telah dibangun di sepanjang jalur Jatiwangi-Cirebon. Semua datang begitu saja tanpa ada pilihan, Kebudayaan seperti tidak punya kekuatan lagi untuk menjadi pijakan. Sehingga yang paling mungkin dilakukan adalah mengikuti kemana zaman ini mengarah. Tentang siapa yang ‘mengarahkannya’ urusan nanti. Pertanyaanya kemudian adalah, bagaimana cara memahami situasi seperti ini?

Inilah yang kemudian melatarbelakangi Village Video Festival ke-5 tahun 2013. Kami memilih untuk mencuri pandang kemungkinan perubahan yang akan terjadi. Menciptakan ruang jeda untuk memunculkan kesempatan pengidentifikasian, pemahaman, investigasi hingga prediksi. Siapapun dapat berpartisipasi dalam festival ini, karena peraturanya adalah : Yang berkunjung harus membuat karya atau membuat pengamatan. Beberapa yang sudah dan akan datang diantaranya:

  • Alfred Banze (Berlin)
  • Anggun Priambodo (Jakarta)
  • Harryaldi (Padang)
  • Reinaart Vanhoe (Rotterdam)
  • Oppe (Jogjakarta)
  • Donny Damara (Jakarta)
  • Ahmett Salina (Jakarta)
  • Muhammad Facthurofi (Semarang)
  • Dinakumis Lestari & Dinas Artistik Kota (Jakarta)
  • Teresa Birks (London)
  • Tanjung Osmar (Medan)

Juga kami yang tinggal di Jatiwangi harus membuat karya, dari mulai :

  • Ginggi Syarif Hasyim (Kepala Desa Jatisura)
  • Drs. Ono Haryono, MP. (Camat Jatiwangi)
  • Kompol. Edi Budi (Kapolsek Jatiwangi)
  • Arief Yudi Rahman
  • Arie Syarifuddin
  • Loranita Theo
  • Tedi Nurmanto
  • Beben Nurberi
  • Ahmad Thian
  • Vedi Sumantri
  • Ismal Muntaha
  • Yopie Nugraha
  • Carda Arifin
  • Muhamad Faizur Rahman
  • Yuda Samakta
  • Rangga Aditiawan
  • Maya Berlin
  • Dan masih terbuka untuk yang lainnya

Kami sepakat untuk mempresentasikan semua karya yang telah dibuat di beberapa tempat di Jatiwangi, diantaranya :

  • Bubur Mang Eo Ua Eo
  • Pangkas Rambut Ikhlas
  • Surya Swalayan
  • Alfamart/ Indomart
  • Warung Joneng
  • Warung Col’am
  • Pos Polisi
  • Pos Satpam Kantor Tol
  • Kantor Pemasaran Jatiwangi Square
  • Warung Jamu
  • Service Sepeda Pak Anggi
  • Pos Kamling

Namun Pak Camat tertarik juga mengajak 16 Desa yang ada di Jatiwangi untuk berpartisipasi secara khusus. Berbagi pandangan tentang perubahan yang telah dan akan terjadi kedepan. Ia mengundang semua Kepala Desa di Kecamatan Jatiwangi untuk membuat tim produksi video di masing-masing desa. Video yang telah dibuat akan di upload ke Kanal Video di Internet. Video dengan jumlah tayang terbanyak akan mendapat hadiah dari Pak Camat di malam pergantian tahun.

“Semoga ini dapat menjadi cara kita mengarsipkan perubahan yang sedang dan akan terjadi,” tutup Pak Camat.

Rekam Dikit Jozzz!

Pameran Video : LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

pameran-01

LAPORAN
PERTANGGUNGJAWABAN
Melapor Ke Rumah

Kurang lebih 2 minggu para partisipan yang
diundang dalam Village Video Festival #4
mencoba memetakan kembali wilayahnya secara
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS dalam bingkai video.
Dan Kami memutuskan untuk mempresentasikan hasil pemetaan ini dengan kembali ke rumah

Kami merasa punya rumah baru. Kompleksitas
berkehidupan yang berusaha untuk kembali ke
ruang ‘sahaja’. Ruang ini adalah rumah tempat berpulang
dan tempat berangkat , titik awal dan akhir segala
dedikasi. Rumah , memiliki analogi strukturnya tersendiri.
Tergantung budaya yang mengkonstruksinya.

Di dalam suatu ruang tinggal sebenarnya kita akan
mendapatkan semacam Weltanschauung (pandangan
dunia) yaitu manifestasi dari pandangan hidup. Ini yang
akan menjadi karakter seseorang atau kelompok tertentu.
Secara sederhana di dalam rumah selalu terbentuk pusat
dunia seseorang atau kelompok.

Misalnya jika dalam rumah seseorang ruang tamunya
tertata lebih intens di banding ruang lainnya, itu
menandakan rumah itu sangat terbuka bagi orang
lain, jika ruang belajarnya terlihat tertata lebih intens,
maka bisa dipastikan bahwa orang atau kelompok di
dalam rumah itu adalah type pembelajar. Jika terjadi
karakteristik yang dominan dalam suatu ruang tinggal,
maka pengaruh kekuasaan tertentu telah berlaku.
Atau kekuasaan pengaruh tertentu telah berlaku.

Suatu karakteristik tertentu dapat menjadi andalan
potensial bagi suatu ruang dan penghuninya jika ia positif,
tapi lebih baik juga jika setiap proporsi setiap elemennya
juga di seimbangkan hingga tidak terjadi ketimpangan
yang terlampau jauh. Misalnya ruang pribadi seseorang
tidak terlampau besar dibanding ruang sosial, atau
sebaliknya. Atau ada seseorang atau kelompok yang
sangat memperhatikan keadaan ekonomi tapi tidak
mempedulikan masalah rohani misalnya.

Apa yang perlu di seimbangkan dalam sebuah rumah
biasanya adalah kondisi-kondisi : spiritual, mental,
material, fisik, sosial, intelektual dan finansial. Seperti
juga Negara sebagai RUMAH BESAR bagi penghuninya,
dalam skala yang lebih besar Negara membutuhkan
keseimbangan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS yaitu
Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan
dan Keamanan Nasional.

Yang pada masing masing bidangnya merupakan ranah-
ranah kekuasaan bagi pemangku bidangnya atau para
pelaku yang mendukungnya.

Ranah-ranah aktifitas IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS
di masyarakat mungkin terus berjalan pararel maupun
berkelindan dalam membangun Negara ini. Namun
dalam prakteknya sering terjadi persinggungan-
persinggungan yang tidak harmonis, karena ketegangan
masing-masing kepentingan kekuasaan bidang-bidang
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS tersebut. Mungkin
karena semua kerja dan karya itu tidak lagi menjadi
sebuah dedikasi tapi hanya melulu setumpuk tugas yang
harus dikerjakan di bawah kekuasaan yang bernama
DINAS. Lalu masing-masing pemeran warganegara
pelaku IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS ini seolah-olah
hidup dalam RUMAH KEHIDUPAN yang terpisah.

Dalam festival video kali ini kami hanya
ingin menyederhanakan kompleksitas
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS itu kembali menjadi
persoalan keluarga yang sederhana dan intim, hingga
konektivitasnya terasa kembali. Dan RUMAH adalah
sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keintiman,
walaupun RUMAH juga bukan kata yang tepat untuk
mewakili kesederhanaan, karena persoalan sebuah rumah
tangga tidak juga bisa di bilang sekedar hal remeh- temeh.

Adalah sebuah kata yang dapat menjadikan kata rumah
menjadi kalimat yang hidup yaitu KELUARGA,
di mana RUMAH yang berwawaskan
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS itu bukanlah rumah
penyendiri atau pertapa yang solitaire.
RUMAH ideal ini adalah RUMAH KELUARGA
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS yang tidak serumit
kata dan akronimnya, tapi rumah dengan cita-cita dan
praktek yang sederhana yaitu : dedikasi.

Lalu manifestasi seperti apa yang sederhana namun
harmonis? Jika suatu kehidupan keluarga di suatu rumah
dapat dikatakan sebagai bagian terkecil dari aktifitas
bernegara, maka jalankanlah praktek-praktek pengukuhan
IPOLEKSOSBUDHANKAM dengan cara yang natural
sealamiah aktifitas yang terjadi dalam keluarga. Masing –
masing anggota keluarga memiliki peran dan otoritasnya
namun berjalan dalam koordinasi kekeluargaan yang
harmonis.

e-ART-h-quake #6 – Krisna Murti

One of the documentation of Krisna Murti Video installations titled e-ART-h-quake # 6 at Rooftile Factory, Jatisura Village, Jatiwangi. This work responded by Performance Khairani Barokka entitled “Samudera Keram”. This video was taken by Ginggi S. Hashim (Jatisura village chief), using his camera phone. This show is part Village Video Festival # 4 program in Jatiwangi.