Pameran Video : LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

pameran-01

LAPORAN
PERTANGGUNGJAWABAN
Melapor Ke Rumah

Kurang lebih 2 minggu para partisipan yang
diundang dalam Village Video Festival #4
mencoba memetakan kembali wilayahnya secara
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS dalam bingkai video.
Dan Kami memutuskan untuk mempresentasikan hasil pemetaan ini dengan kembali ke rumah

Kami merasa punya rumah baru. Kompleksitas
berkehidupan yang berusaha untuk kembali ke
ruang ‘sahaja’. Ruang ini adalah rumah tempat berpulang
dan tempat berangkat , titik awal dan akhir segala
dedikasi. Rumah , memiliki analogi strukturnya tersendiri.
Tergantung budaya yang mengkonstruksinya.

Di dalam suatu ruang tinggal sebenarnya kita akan
mendapatkan semacam Weltanschauung (pandangan
dunia) yaitu manifestasi dari pandangan hidup. Ini yang
akan menjadi karakter seseorang atau kelompok tertentu.
Secara sederhana di dalam rumah selalu terbentuk pusat
dunia seseorang atau kelompok.

Misalnya jika dalam rumah seseorang ruang tamunya
tertata lebih intens di banding ruang lainnya, itu
menandakan rumah itu sangat terbuka bagi orang
lain, jika ruang belajarnya terlihat tertata lebih intens,
maka bisa dipastikan bahwa orang atau kelompok di
dalam rumah itu adalah type pembelajar. Jika terjadi
karakteristik yang dominan dalam suatu ruang tinggal,
maka pengaruh kekuasaan tertentu telah berlaku.
Atau kekuasaan pengaruh tertentu telah berlaku.

Suatu karakteristik tertentu dapat menjadi andalan
potensial bagi suatu ruang dan penghuninya jika ia positif,
tapi lebih baik juga jika setiap proporsi setiap elemennya
juga di seimbangkan hingga tidak terjadi ketimpangan
yang terlampau jauh. Misalnya ruang pribadi seseorang
tidak terlampau besar dibanding ruang sosial, atau
sebaliknya. Atau ada seseorang atau kelompok yang
sangat memperhatikan keadaan ekonomi tapi tidak
mempedulikan masalah rohani misalnya.

Apa yang perlu di seimbangkan dalam sebuah rumah
biasanya adalah kondisi-kondisi : spiritual, mental,
material, fisik, sosial, intelektual dan finansial. Seperti
juga Negara sebagai RUMAH BESAR bagi penghuninya,
dalam skala yang lebih besar Negara membutuhkan
keseimbangan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS yaitu
Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan
dan Keamanan Nasional.

Yang pada masing masing bidangnya merupakan ranah-
ranah kekuasaan bagi pemangku bidangnya atau para
pelaku yang mendukungnya.

Ranah-ranah aktifitas IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS
di masyarakat mungkin terus berjalan pararel maupun
berkelindan dalam membangun Negara ini. Namun
dalam prakteknya sering terjadi persinggungan-
persinggungan yang tidak harmonis, karena ketegangan
masing-masing kepentingan kekuasaan bidang-bidang
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS tersebut. Mungkin
karena semua kerja dan karya itu tidak lagi menjadi
sebuah dedikasi tapi hanya melulu setumpuk tugas yang
harus dikerjakan di bawah kekuasaan yang bernama
DINAS. Lalu masing-masing pemeran warganegara
pelaku IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS ini seolah-olah
hidup dalam RUMAH KEHIDUPAN yang terpisah.

Dalam festival video kali ini kami hanya
ingin menyederhanakan kompleksitas
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS itu kembali menjadi
persoalan keluarga yang sederhana dan intim, hingga
konektivitasnya terasa kembali. Dan RUMAH adalah
sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keintiman,
walaupun RUMAH juga bukan kata yang tepat untuk
mewakili kesederhanaan, karena persoalan sebuah rumah
tangga tidak juga bisa di bilang sekedar hal remeh- temeh.

Adalah sebuah kata yang dapat menjadikan kata rumah
menjadi kalimat yang hidup yaitu KELUARGA,
di mana RUMAH yang berwawaskan
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS itu bukanlah rumah
penyendiri atau pertapa yang solitaire.
RUMAH ideal ini adalah RUMAH KELUARGA
IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS yang tidak serumit
kata dan akronimnya, tapi rumah dengan cita-cita dan
praktek yang sederhana yaitu : dedikasi.

Lalu manifestasi seperti apa yang sederhana namun
harmonis? Jika suatu kehidupan keluarga di suatu rumah
dapat dikatakan sebagai bagian terkecil dari aktifitas
bernegara, maka jalankanlah praktek-praktek pengukuhan
IPOLEKSOSBUDHANKAM dengan cara yang natural
sealamiah aktifitas yang terjadi dalam keluarga. Masing –
masing anggota keluarga memiliki peran dan otoritasnya
namun berjalan dalam koordinasi kekeluargaan yang
harmonis.

e-ART-h-quake #6 – Krisna Murti

One of the documentation of Krisna Murti Video installations titled e-ART-h-quake # 6 at Rooftile Factory, Jatisura Village, Jatiwangi. This work responded by Performance Khairani Barokka entitled “Samudera Keram”. This video was taken by Ginggi S. Hashim (Jatisura village chief), using his camera phone. This show is part Village Video Festival # 4 program in Jatiwangi.

Village Video Festival 2012. IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS

VVF2012

Village Video Festival 2012

IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS

Festival Video ResidensiInternasional yang keEmpat di Jatiwangi.

The 4thJatiwangi International Video Residency

 

Sharing kekuasaan lewat bingkai video

Village Video Festival merupakan festival video residensi tahunan yang diselenggarakan Jatiwangi art Factory dan Sunday Screen di Jatiwangi. Festival ini selalu mengajak seniman atau non seniman yang punya ketertarikan melakukan eksplorasi media baru untuk tinggal dan berkolaborasi bersama warga di Jatiwangi.

Proses kolaborasi lewat tiga festival sebelumnya telah menghasilkan berbagai persepsi baru tentang medium video, khususnya bagi warga Jatiwangi. Hal yang paling kongkrit terasa adalah video menjadi kebutuhan baru warga Jatiwangi dari mulai masyarakat hingga aparat pemerintahan untuk terus mengabarkan diri pada khalayak yang lebih luas. Kesadaran bermedia warga jatiwangi  inilah yang menjadi titik berangkat Village Video Festival pada tahun ini.

Festival kali ini diawali oleh inisiatif dari para pemangku Kebijakan Jatiwangi dari mulai Camat, Kepala Kepolisian Sektor, dan Komandan Rayon Militer (MUSPIKA) serta Kepala Desa yang mengajukan diri untuk menjadi partisipan dan membuat karya. Inisiatif ini kemudian dibingkai oleh satu kesepakatan untuk memetakan kembali wilayah perdesaan yang terus berkejaran dengan perubahan dalam hal ini Kecamatan Jatiwangi, secara IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS. Ini menjadi semacam metode yang coba diajukan untuk menciptakan kemandirian informasi serta kesadaran dalam menggunakan media.

Partisipan akan mempertajam penglihatannya lewat pendampingan berupa workshop dari beberapa praktisi yang kami undang, yakni; seniman video, researcher, pembuat film, dan ahli komunikasi visual. Hasil workshop inilah yang kemudian akan dipresentasikan di akhir festival. Diharapkan lewat pendampingan ini dapat terjadi satu sharing ‘kekuasaan’ antara orang yang berpengaruh secara kebijakan dengan teman-teman praktisi untuk membuat satu rumusan pemetaan wilayah dalam bingkai video. Juga menjadi semacam strategi dalam mengkomunikasikan kebijakan secara kreatif.

Semoga ini dapat menjadi cara kami melihat kembali Jatiwangi sebagai bekal melangkah ke depan.

 

—-

 

Sharing Power through the video frame

Village Video Festival is an annual video residency festival organized by Jatiwangi art factory and Sundayscreen. This festival invites artists and non-artists who have passion in exploring new media to stay and collaborate with Jatiwangi’s residents.

The collaborations from the three earlier festivals have produced new perceptions about the medium of video, especially for the Jatiwangi villagers. The most substantial  change has been the realization of video as a new necessity for Jatiwangi residents, ranging from the local community to government officials, in order to continue broadcasting themselves to wider audiences. The media awareness of  Jatiwangi’s people is the point of departure for this year’s Village Video Festival.

The current festival began with the initiative of the Jatiwangi Policy stakeholders, including the District Chief (Camat), Police Sector Chief, and the Commander of the District Military (Muspika) as well as the village head, who put themselves forward to participate and create art work. Subsequently, these initiatives were framed by an agreement to remap the rural areas of Jatiwangi district that had undergone continuous development and changes, specifically in the fields of IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS (Ideology, Politics, Economy, Social, Culture, Safety and Defense, National). This plan has since become a proposed method to create self-sufficiency in information provision and awareness in media usage.

Participants will sharpen their vision through advocacy in the form of workshops tutored by invited practitioners, such as: video artists, researchers, filmmakers, and visual communication experts. The results of this workshop will be presented at the end of the festival. The expected result of this tutorial method is a kind of “power” sharing between those who have authority over policy, and those who are practitioners, to formulate a new district remapping in the form of video. This will also become a strategy to communicate policy in creative ways.

May this festival become the means for us to see Jatiwangi in a new light, in a way that equips us to step forward into the future.